Tampilkan postingan dengan label CIBLEK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CIBLEK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2017

Menyiapkan Burung Untuk Lomba

Image result for persiapan lomba burung

Sehubungan dengan pertanyaan dari Mas Agus Rizal (komentar di threat Murai Batu Ngebatman, bagaimana solusinya?) tentang bagaimana menyiapkan vitamin/pakan untuk burung ketika disiapkan untuk lomba, saya turunkan tulisan saya yang pernah saya kirim untuk www.kicaumanua.org, mengenai persiapan lomba, termasuk soal pakan.

Untuk maju ke lomba, perlu dilihat sejumlah aspek yang saya rangkum dalam 5W dan 1 H (mirip konsep bikin berita hehehe), yakni who, why, what, when, where (5W) dan how (1H). Keenam unsur itu akan saling terkait dalam hal kita mempersiapkan burung untuk lomba.

Aspek WHO, adalah melihat “siapa” burung kita dan “siapa” saja burung lawan. Dalam hal ini, kita harus benar2 tahu, siapakah sesungguhnya burung kita itu. Pertanyaannya, benarkah burung kita sudah siap tarung; bagaimana pengalaman tarungnya selama ini jika bertemu burung2 lain.
Burung siap tarung adalah burung dalam kondisi fit dengan bulu cukup tua (tidak habis mabung; tapi kira2 2 bulan setelah mabung), dan punya senjata andalan. Kalau burung Anda tidak fit, lebih baik tidak diikutkan lomba karena hanya akan buang2 uang, tenaga dan waktu. Juga, untuk burung yang tidak punya senjata andalan dalam hal irama/lagu, volume/suara dan gaya, sebaiknya tidak perlu diikutkan dalam lomba. Namun hal utama adalah irama/lagu.
Kondisi burung fit pun, harus benar2 disiapkan jauh hari sebelumnya. Terutama sekali, tidak dipertemukan dengan burung lain (mendengar kicau tantangan dari burung lain), minimal 7 hari sebelumnya, agar dia punya cadangan stamina dan power yang banyak di arena lomba nantinya. Selama 7 hari itupun perlu penanganan khusus, misalnya dalam hal penjemuran. Penjemuran tidak perlu lama2, tetapi yg penting dia diletakkan di ruang yang relatif panas (misalnya digantung 0,5 m di bawah atap seng, selama pukul 9-11). Hal itu diperlukan untuk memperkuat/memperpanjang nafas. Banyak orang menjemur dari pagi sampai sore burung yg disiapkan untuk lomba, tetapi hal ini bisa merusak bulu (kusam/pecah2 dll).
Penjemuran/pemanasan seperti itu dihentikan 2 hari sebelum lomba dan burung tetap dirawat seperti biasanya, hanya saja sehabis mandi, dijemur pagi hari, lantas diangin2kan dan langsung dikerodong. Tujuannya agar burung tidak terlalu cerewet yang menyebabkan dia terlalu banyak buang tenaga.
Banyak di antara kita yang sering memberi makanan tambahan bagi burung yang akan kita lombakan. Baik dari sisi jenis makanan, maupun jumlahnya. Kalau biasanya dikroto 1 sendok, maka memasuki masa lomba diberi 2 sendok dsb, atau biasanya tidak diberi kelabang maka 1-2 hari sebelum lomba diberi kelabang. Tetapi menurut saya, cara ini sebaiknya tidak dilakukan karena dengan perubahan makanan, baik jumlah maupun jenis, sering membuat burung berubah dalam penampilan.
Adanya penambahan/perubahan menu, biasanya menjadikan burung sangat2 agresif dan dia hanya terlalu banyak gerak di arena lomba tetapi pelit untuk mengeluarkan suara.
Aspek WHO berikutnya adalah tentang lawan2 kita. Siapakah lawan2 burung kita. Kalau Anda melihat calon2 lawan burung kita adalah burung yang sudah punya nama (karena memang bagus), maka Anda harus bertanya tentang aspek “WHY” dalam lomba. Ya, tanyakanlah pada diri Anda, “Mengapa saya ikut lomba?”
Kalau tujuan Anda lomba adalah untuk merebut juara, maka urungkan niat Anda jika Anda tidak yakin burung Anda punya andalan yang bisa mengungguli lawan. Tapi kalau niat Anda ingin mengetes kemampuan burung Anda, teruskan saja niat Anda… nothing to lose.
Untuk menggali lebih jauh tentang hal “who”, baik untuk burung kita sendiri atau lawan2 kita, kita akan melihat aspek WHAT. Yakni event lomba apakah yang kita ikuti ini. Kalau eventnya adalah lomba tingkat nasional, maka kita harus yakin benar bahwa burung kita pernah berprestasi di tingkat lokal ataupun regional, atau bisa juga, kita baru saja menemukan burung dengan bakat besar dan kualitas bagus meski belum pernah ikut lomba. Jika memang demikian, jalan terus saja.
Terkait dengan masalah WHAT ini kita akan melihat pula apakah ini event yang harus kita hadapi secara “biasa” atau secara “luar biasa”. “Biasa” dan “luar biasa” terkait dengan pengetahuan kita atas penyelenggara lomba dan personel juri. Penyelenggara lomba yang punya kredibilitas tinggi, tidak akan sembarangan menunjuk juri. Juri2 di lomba besar dengan insentif besar, biasanya malah tidak silau oleh gebyar sangkar atau penampilan para pemilik burung. Dalam menilai, dia benar2 berdasar pada kinerja burung dan bukan pada kondisi sangkar. Tapi ini bukan berarti bahwa juri dalam lomba yang biasa2 saja adalah juri yang tidak bisa dipercaya. Tidak, sama sekali tidak. Hanya saja, dengan pengetahuan kita tentang “event apakah ini”, maka membuat kita siap mental bila terjadi “apa2” dalam hal penjurian.
Setelah who, why dan what, kita masuk ke masalah WHERE, yakni di manakah digelar lomba. Unsur “di mana” ini harus kita ketahui benar, misalnya dari sisi jarak tempuh dan kondisi riil arena lomba. Kalau jarak tempuh lebih dari 2 jam perjalanan darat (ini di daerah; kalau di Jakarta, lain kali ya), sebaiknya Anda datang sehari sebelumnya di kota tempat lomba. Hal ini untuk memberi istirahat yang cukup bagi burung sebelum tampil di arena.
Terkait aspek WHERE ini adalah kondisi lapangan yang Anda juga harus tahu sebelumnya. Pastikan Anda tahu apakah arena tersebut terbuka dari sinar matahari atau tertutup rimbunnya pepohonan atau ditutup dengan tenda. Pastikan burung Anda tidak akan terpengaruh dengan kondisi lapangan seperti itu. Atau kalau burung Anda tidak terbiasa dengan arena yang direncanakan untuk lomba, maka dengan mengetahui kondisi lapangan jauh hari sebelumnya, Anda bisa mengkondisikan burung Anda.
Aspek berikut adalah WHEN. Masalah “kapan” lomba digelar, Anda juga harus paham, terutama berkaitan dengan musim/cuaca. Jika cuaca berangin, maka pastikan bahwa sangkar burung Anda cukup berat sehingga tidak akan terayun-ayun di gantangan. Jika sangkar Anda terbuat dari bahan yang ringan, maka tidak ada salahnya pada dasar sangkar (dibawah jeruji dasar) Anda menambahkan batu/besi sehingga sangkar tidak akan terayun-ayun oleh angin. Jika cuaca berangin, pastikan pula plastik yang biasanya kita pasang pada dasar sangkar sebagai pencegah sangkar kena kotoran burung, dilepas. Jika tidak dilepas, seringkali plastik ini tersingkap yang menyebabkan burung kita ketakutan dan tidak kerja di arena lomba. Juga jika cuaca berangin, buatlah sangkar Anda sedemikian rupa sehingga tidak mungkin ada daun/kotoran dari pohon, menerobos masuk ke sangkar. Daun/kotoran yang masuk ke sangkar, biasanya menyebabkan burung macet bunyi dan malah memain2kan daun/kotoran itu.
Setelah persoalan2 5W saya kemukakan, maka perlu kiranya saya sampaikan sejumlah “HOW” mulai dari pakan sampai sikap kita dalam lomba:
1. Jangan pernah tinggalkan makanan, kecuali air minum, ketika burung mulai digantangkan di arena.
2. Jangan pernah teriak2 dalam lomba karena teriak2 tidak berpengaruh apa2 kecuali malah memberi “perlindungan” bagi juri yang akan berbuat tidak jujur dalam lomba. Adanya suara gaduh, membuat suara burung tidak terdengar jelas dari luar arena. Hal ini bisa membuat juri memberikan penilaian apa saja, dengan berpikir, “Toh kalian semua (pemilik burung) tidak mendengar apapun di arena lomba kecuali jerit teriakan.”
3. Jangan pernah tinggalkan burung di kawasan lomba tanpa pengawasan.
4. Jangan gantung/letakkan sangkar di sembarang tempat. Waspadai keberadaan serangga/semut pengganggu burung.
====================================================
Sekadar info sebelum saya tutup tulisan ini, untuk mempersiapkan burung jawara, Anda perlu membaca yang satu ini: Rahasia Burung Jawara.
Atau Anda ingin tahu rahasia lebih jauh bagaimana merawat burung, pengetahuan tentang doping yang baik dan tidak baik? Ya, silakan menjadi member Om Kicau Hotline.
====================================================
Demikian kawan sejumlah hal yang bisa saya sampaikan untuk Anda semua. Barangkali masih banyak hal yang belum saya sampaikan di sini mengingat keterbatasan ingatan saya. Perlu kiranya saya tegaskan lagi bahwa PADA KENYATAANNYA BANYAK BURUNG BISA JADI JAWARA TANPA PERSIAPAN MACAM2.

sumber : https://omkicau.com


Selasa, 29 November 2016

Ini Dia...!!! Cara Perawatan Ciblek Biar Rajin Gacor Ngebren

Dalam merawat segala jenis burung berkicau, hal yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap pemiliknya adalah ketika ia mau lekas rajin buka paruh dengan suara yang lantang dan bervariasi. Pernyataan serupa juga tidak sedikit diidamkan oleh para kicau mania selaku pemelihara burung ciblek. Namun untuk mencapainya, tentu bukanlah perkara yang instan. Sebab selain ketepatan pada pemilihan burung semenjak ia masih bakalan, pemberian pakan dan pola setelan perawatan ciblek harian juga sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan.

Kalau burung yang dikelompokkan pada genus Prinia ini sudah benar-benar jadi atau bisa gacor dengan suara ngebren yang lantang nan panjang, maka peluangnya untuk memperoleh gelar juara saat berkompetisi dalam perlombaan gatangan akan semakin besar pula. Tetapi kalau penampilannya hanya biasa-biasa saja, pasti terdapat sedikit kekurangtepatan, entah itu pada segi pemberian pakan atau mungkin karena pola perawatan ciblek harian yang kurang diperhatikan. Oleh karena itu, supaya pengicau dari keluarga atau suku Cisticolidae ini lekas mempunyai kemampuan berkicau yang bagus, maka ada baiknya jika cara perawatan ciblek gacor lebih diperhatikan.

Sehubungan dengan cara perawatan ciblek cepat gacor ngebren, sebenarnya tidaklah terlalu rumit ataupun sulit untuk dilaksanakan. Sebab setelan harian ciblek yang diberikan supaya ia lebih rajin buka paruh, pada dasarnya tidak jauh beda dengan rawatan yang banyak diterapkan oleh para kicau mania pada umumnya. Namun karena kebanyakan ciblek yang dibeli di pasaran adalah hasil dari tangkapan hutan, maka ia harus dijinakkan terlebih dahulu. Disamping penjinakkan, meracik pakan yang diberikan dan pemasteran, ternyata juga berpengaruh pada perkembangan suara gacor ngebren yang merupakan ciri khas gacoran-nya. Untuk lebih lengkapnya mengenai perawatan harian ciblek bakalan / dewasa sebagai berikut;
Dijinakkan Terlebih Dahulu
Bagi yang hendak membeli burung di ombyokan, supaya nantinya cara menjinakkan ciblek lebih mudah, ada baiknya jika memilih burung yang masih muda. Bisa begitu karena hampir semua jenis burung seperti cendet dan jalak suren, waktu yang paling mudah untuk menjinakkan adalah ketika burung masih berusia muda. Selain itu, burung yang muda juga bisa dilatih mentalnya sejak dini, sehingga pada saat dewasa ia mempunyai mental yang bagus. Berbeda dengan burung dewasa, dimana akan lebih sulit dijinakkan lantaran sifat berontak-nya yang terlalu tinggi saat bertemu manusia. Terlebih lagi melatih mentalnya akan lebih sulit karena sudah terbentuk saat berada di alam liar. Dan di alam liar ia jarang bertemu manusia, sehingga wajar kalau mentalnya menurun saat bertemu manusia.
Sedangkan cara untuk menjinakkan burung yang sebelumnya dikelompokkan pada keluarga atau suku Sylviidae ini, sebenarnya tidaklah terlalu rumit ataupun sulit untuk dilakukan. Rutin mengkerodong dan kemudian menggantangnya di teras rumah atau di bawah pohon rindang pada jam 05.00 pagi hingga menjelang matahari terbit, adalah salah satu metode untuk menjinakkan sekaligus cara perawatan ciblek biar gacor. Setelah itu atau lebih tepatnya pada pukul 07.00, burung bisa diberi EF yang berupa jangkrik berukuran kecil sebanyak 2 hingga 3 ekor, dan juga 1 sendok teh ktoro. Lepas dari pemberian EF burung bisa dimandikan dengan cara disemprot menggunakan sprayer.
Seusai mandi burung lekas dijemur kurang lebih selama 2 jam. Kalau kondisi burung sudah mengering maka se segera mungkin ia digantang pada tempat teduh yang ramai aktivitas manusia. Akan tetapi tidak dikerong agar lama-kelamaan burung bisa terbiasa dengan kehadiran manusia. Untuk sore hari juga lakukan metode seperti halnya pada pagi hari, yaitu memandikan burung. Pemandian bisa dilakukan ketika matahari belum terbenam atau tepat pada pukul 16.00. Namun kalau pagi hari setelah mandi burung tidak dikerodong, berbeda dengan sore hari. Dimana seusai mandi ia lekas dikerodong, karena sore hari adalah waktu istirahat burung. Dan sebelum dikerodong burung diberi EF yang berupa 3 ekor jangkrik kecil. Perawatan ciblek selanjutnya ialah setelan pakan ciblek harian.
Meracik Pakan
Meracik pakan juga merupakan salah satu perawatan ciblek gacor. Untuk penyajian makanan pada pertama kalinya bisa difungsikan sebagai proses adaptasi. Dan untuk adaptasi itu sendiri, racikan yang dapat diberikan adalah ¼ kroto dicampur dengan ¾ voer. Campuran antara kroto dan voer tersebut, sebaiknya disajikan selama 1-3 hari. Selepas itu, untuk hari berikutnya racikan pakan dapat segera diubah dengan perbandingan ½ : ½ untuk voer dan kroto. Supaya burung cepar gacor ngebren, berikan racikan tersebut setiap pagi dan sore hari. Disisi lain agar kebugaran burung selalu terjaga, rutin memberikan EF berupa jangkrik kecil 2 ekor di pagi dan 3 pada sore hari adalah kuncinya.
Pemasteran Ciblek
Memaster adalah salah satu perawatan ciblek tambahan biar cepat gacor. Pemasteran bisa dan sangat baik diterapkan jika burung sudah jinak. Bisa begitu karena burung yang jinak kemungkinan besar akan lebih mampu fokus dalam merekam suara masteran yang diberikan, dibandingkan dengan burung yang masih liar atau giras. Dan memaster juga dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan kicauan burung jenis lain seperti cililin dan kenari misalnya, dengan tujuan agar suara ciblek lebih bervariasi. Khusus untuk jantan yang belum birahi, sehingga cenderung jarang buka paruh, maka pemilik bisa memancing birahi sekaligus gacorannya dengan penggunaan suara ciblek betina.

Sumber : http://www.situsburung.com/perawatan-ciblek-biar-gacor/