Tampilkan postingan dengan label PLECI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PLECI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2017

Kenapa pleci gacor di rumah, tapi gembos di lapangan?


Image result for pleci

Di blog ini sudah banyak ditulis tips dan trik memperbaiki performa burung pleci atau kacatama. Kali ini diturunkan tips lain, berkaitan dengan meningkatkan performa pleci di arena lomba.

Tips dari Om Suwarno, sobat KicauMania.Or.Id, ini mencoba menjawab kegelisahan para plecimania terhadap ulah momongan di lapangan yang kerap gacor di rumah tetap melempem di arena lomba.  Ada apa gerangan dengan momongan kita sebenarnya? Apakah setelan rawatan harian ada yang salah? Dan kenapa hal ini bisa terjadi?

Mengintip kehidupan pleci di alam (ilustrasi)
Pleci bukanlah burung territorial ataupun burung fighter yang hidup dengan cara mempertahankan wilayahnya, seperti halnya dengan murai batu atau burung kacer. Ia tidak lebih merupakan sekawanan burung yang mempunyai kebiasaan mencari makan dengan berpindah-pindah tempat dan tinggal dimana saja ditempat yang mempunyai sumber makanan berlimpah.

Selama burung pleci hinggap di suatu pohon, saat itu pula ia berkicau dan berkomunikasi dengan kawanannya. Bahkan dalam petualangannyapun ia berkicau “ngalas” sambil terbang. Begitu kabiasaan hidup pleci sehari-hari. Hanya pada kondisi-kondisi tertentu, seperti musim kawin dan perkembang-biakan, ia tinggal menetap dalam batas terrtentu. Biasanya dari bulan Pebruari sampai bulan September.
Kebiasaannya di alam yang biasa hidup bebas tersebut, berubah 180 derajat ketika ia sudah berubah status menjadi burung peliharaan. Berbagai masalahpun timbul kemudian. Burung malas untuk berkicau. Stres yang dialami membuat pleci harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ini merupakan masalah psikologis yang harus dipahami dengan benar oleh para plecimania sehingga dapat menjawab masalah yang timbul.
Masalah pada pleci peliharaan
Ada 2 alasan kenapa orang memelihara burung, pertama adalah untuk sekadar sarana menyalurkan hobi, dan yang kedua karena alasan lomba/kompetisi, yaitu karena adanya tujuan-tujuan bisnis di balik itu. Meskipun berbeda tujuan, tetapi mereka mempunyai keinginan dan masalah yang sama, yaitu berkaitan dengan performa kicauan burung dan melesetnya harapan kita selama ini tentang pleci idaman.
Untuk menjawab masalah-masalah tersebut banyak treatmen yang telah dilakukan dari A sampai Z, sehingga pada akhirnya masalah psikologis burung berangsur-angsur “sembuh” dan burung dapat berkicau kembali. Tetapi lepas dari satu masalah, timbul masalah yang lainnya, yaitu suara kicauan jauh dari harapan dan espektasi selama ini.
Apalagi jika referensinya adalah video-video burung yang mempunyai performa dan kicauan yang bagus yang tersebar di Internet, semakin membuat para plecimania tidak sabar dan frustasi, apalagi bagi plecimania yang secara reguler mengikutkan burungnya di arena lomba, atau baru pertama kali ikut lomba.
Bagimana tidak? Burung yang setiap hari di rumah bagus berkicau-jos gandos-gacor owor-owor-bocor siang-malam, kok tiba-tiba loyo, kerjaannya cuma lompat-lompat saja atau bersembunyi di dasar sangkar ketika di bawa ke arena lomba. Sungguh ironis dan mengesalkan tentunya. Kenapa kondisi ini bisa terjadi?
Rawatan harian kunci sukses di arena lomba
Kehebatan burung berkicau di arena lomba/kompetisi dan memperoleh predikat juara tidak lepas dari rawatan hariannya. Merawat burung seperti pleci harus dibekali pemahaman yang baik tentang pola makan dan kebiasaanya di alam liar.
Faktor nutrisi ini yang membuat burung tetap sehat dan kuat, sehingga kelak rajin berkicau. Untuk tetap berkicau perlu adanya konsistensi dalam perawatannya. Salah satunya yang terpenting adalah pola adaptasi terus-menerus. Adaptasi yang dimaksudkan adalah burung harus mendapat perlakuan kurang lebih mirip dengan kondisi di alam liarnya (kurang lebih mirip dalam ilustrasi yang dijelaskan di atas).
Sekali lagi pleci bukanlah murai batu atau kacer. Burung yang mudah berkicau saat datangnya intimidasi suara dari burung lain. Jika murai batu atau kacer performanya dapat berubah 180 derajat dilapangan dibandingkan dirumah. Itu sudah umum terjadi. Tetapi hal ini tidak akan pernah terjadi dengan pleci, ia hanya mau dan berani berkicau jika ia terbiasa dan menganggap “arena lomba” hanyalah “suasana baru” dalam perspektifnya.
Artinya apa? Artinya bahwa pemilik pleci harus secara berkala di setiap akhir pekan membiasakan plecinya ke arena lomba. Sehingga pleci akan terbiasa dengan kondisi dan suasana lomba. Lalu bagaimana dengan para plecimania yang jauh dari arena lomba diwilayahnya atau untuk mereka yang tidak mempunyai hobi membawa ke arena lomba?
Jawabnya “Jangan khawatir”
Untuk melatih pleci selalu dapat tampil bagus, pola yang mirip dilakukan adalah dengan sesering mungkin merotasi gantangan yang dipakai di rumah. Ini dapat dilakukan setiap hari sesuai dengan selera Anda. Biasakan untuk menggantang pleci di tempat lalu lalang dan keramaian agar kelak pleci mudah beradaptasi.
Jeffrey Low, salah seorang penggemar pleci asal Singapura di halaman website-nya David de Souza menulis bahwa semakin sering Anda membawa pleci ke suatu tempat yang berbeda-beda, akan membuat performa burung semakin baik, daripada hanya menggantang pleci di suatu tempat saja, tidak akan membuat pleci Anda ke level Top Perform (Puncak Performa) burung tersebut.
Lebih jauh ia menyarankan agar kemana pun Anda berada (jika mempunyai cukup waktu), bawalah ke tempat nongkrong baik di kedai kopi, pos ronda, ke tempat kerabat atau keluarga, saat menunggu anak pulang sekolah atau ke tempat biasa Anda sering berkunjung.
Biasakan pleci ikut berpetualang seperti kehidupannya di alam liar yang sering berpindah-pindah tempat.

Saran dari Jefrey Low, bisa direkomendasikan karena saya sendiri pernah membaca artikel yang isinya kurang lebih sama yang dialami oleh seorang plecimania asal Vietnam yang selalu membawa beberapa plecinya kemana pun ia pergi. Dan herannya pleci-pleci miliknya tidak pernah berhenti berkicau meskipun banyak orang mengerumuninya di jalan.
Sedangkan contoh kasus lainnya adalah seorang plecimania yang membuka kedai kopi, yang di atas ruangan out door kedai kopi-nya, tergantung semua burung pleci miliknya sehingga suara kicauanya dapat menghibur pengunjung kedai kopi tersebut.
Contoh kasus yang kedua mungkin kurang tepat, tetapi hal itu merupakan usaha untuk menciptakan suasana “lomba/kompetisi” agar pleci dapat terlatih mentalnya di keramaian.
Terkait dengan masalah ini, Anda bisa pula merujuk artikel tentang perlunya burung sering diajak bepergian. Lihat misalnya pada sub judul “Tips dan trik menjaga kesehatan mental burung” dalam artikel Om Kicau berjudul “Kunci Utama Perawatan Burung”.
Upaya untuk mengajak atau membawa-bawa pleci travelling patut diapresiasi sebatas untuk meningkatkan performa burung itu sendiri. Upaya tersebut jangan ditanggapi dengan apriori atau nada yang stereotip. Untuk satu burung saja sepertinya begitu ribet (susah urusannya), apalagi mempunyai 10 pleci. So kenapa kita mesti merasa ribet jika hasilnya positif.
Selamat mencoba!!

By suwarno71/kicaumania.co.id

Menyiapkan Burung Untuk Lomba

Image result for persiapan lomba burung

Sehubungan dengan pertanyaan dari Mas Agus Rizal (komentar di threat Murai Batu Ngebatman, bagaimana solusinya?) tentang bagaimana menyiapkan vitamin/pakan untuk burung ketika disiapkan untuk lomba, saya turunkan tulisan saya yang pernah saya kirim untuk www.kicaumanua.org, mengenai persiapan lomba, termasuk soal pakan.

Untuk maju ke lomba, perlu dilihat sejumlah aspek yang saya rangkum dalam 5W dan 1 H (mirip konsep bikin berita hehehe), yakni who, why, what, when, where (5W) dan how (1H). Keenam unsur itu akan saling terkait dalam hal kita mempersiapkan burung untuk lomba.

Aspek WHO, adalah melihat “siapa” burung kita dan “siapa” saja burung lawan. Dalam hal ini, kita harus benar2 tahu, siapakah sesungguhnya burung kita itu. Pertanyaannya, benarkah burung kita sudah siap tarung; bagaimana pengalaman tarungnya selama ini jika bertemu burung2 lain.
Burung siap tarung adalah burung dalam kondisi fit dengan bulu cukup tua (tidak habis mabung; tapi kira2 2 bulan setelah mabung), dan punya senjata andalan. Kalau burung Anda tidak fit, lebih baik tidak diikutkan lomba karena hanya akan buang2 uang, tenaga dan waktu. Juga, untuk burung yang tidak punya senjata andalan dalam hal irama/lagu, volume/suara dan gaya, sebaiknya tidak perlu diikutkan dalam lomba. Namun hal utama adalah irama/lagu.
Kondisi burung fit pun, harus benar2 disiapkan jauh hari sebelumnya. Terutama sekali, tidak dipertemukan dengan burung lain (mendengar kicau tantangan dari burung lain), minimal 7 hari sebelumnya, agar dia punya cadangan stamina dan power yang banyak di arena lomba nantinya. Selama 7 hari itupun perlu penanganan khusus, misalnya dalam hal penjemuran. Penjemuran tidak perlu lama2, tetapi yg penting dia diletakkan di ruang yang relatif panas (misalnya digantung 0,5 m di bawah atap seng, selama pukul 9-11). Hal itu diperlukan untuk memperkuat/memperpanjang nafas. Banyak orang menjemur dari pagi sampai sore burung yg disiapkan untuk lomba, tetapi hal ini bisa merusak bulu (kusam/pecah2 dll).
Penjemuran/pemanasan seperti itu dihentikan 2 hari sebelum lomba dan burung tetap dirawat seperti biasanya, hanya saja sehabis mandi, dijemur pagi hari, lantas diangin2kan dan langsung dikerodong. Tujuannya agar burung tidak terlalu cerewet yang menyebabkan dia terlalu banyak buang tenaga.
Banyak di antara kita yang sering memberi makanan tambahan bagi burung yang akan kita lombakan. Baik dari sisi jenis makanan, maupun jumlahnya. Kalau biasanya dikroto 1 sendok, maka memasuki masa lomba diberi 2 sendok dsb, atau biasanya tidak diberi kelabang maka 1-2 hari sebelum lomba diberi kelabang. Tetapi menurut saya, cara ini sebaiknya tidak dilakukan karena dengan perubahan makanan, baik jumlah maupun jenis, sering membuat burung berubah dalam penampilan.
Adanya penambahan/perubahan menu, biasanya menjadikan burung sangat2 agresif dan dia hanya terlalu banyak gerak di arena lomba tetapi pelit untuk mengeluarkan suara.
Aspek WHO berikutnya adalah tentang lawan2 kita. Siapakah lawan2 burung kita. Kalau Anda melihat calon2 lawan burung kita adalah burung yang sudah punya nama (karena memang bagus), maka Anda harus bertanya tentang aspek “WHY” dalam lomba. Ya, tanyakanlah pada diri Anda, “Mengapa saya ikut lomba?”
Kalau tujuan Anda lomba adalah untuk merebut juara, maka urungkan niat Anda jika Anda tidak yakin burung Anda punya andalan yang bisa mengungguli lawan. Tapi kalau niat Anda ingin mengetes kemampuan burung Anda, teruskan saja niat Anda… nothing to lose.
Untuk menggali lebih jauh tentang hal “who”, baik untuk burung kita sendiri atau lawan2 kita, kita akan melihat aspek WHAT. Yakni event lomba apakah yang kita ikuti ini. Kalau eventnya adalah lomba tingkat nasional, maka kita harus yakin benar bahwa burung kita pernah berprestasi di tingkat lokal ataupun regional, atau bisa juga, kita baru saja menemukan burung dengan bakat besar dan kualitas bagus meski belum pernah ikut lomba. Jika memang demikian, jalan terus saja.
Terkait dengan masalah WHAT ini kita akan melihat pula apakah ini event yang harus kita hadapi secara “biasa” atau secara “luar biasa”. “Biasa” dan “luar biasa” terkait dengan pengetahuan kita atas penyelenggara lomba dan personel juri. Penyelenggara lomba yang punya kredibilitas tinggi, tidak akan sembarangan menunjuk juri. Juri2 di lomba besar dengan insentif besar, biasanya malah tidak silau oleh gebyar sangkar atau penampilan para pemilik burung. Dalam menilai, dia benar2 berdasar pada kinerja burung dan bukan pada kondisi sangkar. Tapi ini bukan berarti bahwa juri dalam lomba yang biasa2 saja adalah juri yang tidak bisa dipercaya. Tidak, sama sekali tidak. Hanya saja, dengan pengetahuan kita tentang “event apakah ini”, maka membuat kita siap mental bila terjadi “apa2” dalam hal penjurian.
Setelah who, why dan what, kita masuk ke masalah WHERE, yakni di manakah digelar lomba. Unsur “di mana” ini harus kita ketahui benar, misalnya dari sisi jarak tempuh dan kondisi riil arena lomba. Kalau jarak tempuh lebih dari 2 jam perjalanan darat (ini di daerah; kalau di Jakarta, lain kali ya), sebaiknya Anda datang sehari sebelumnya di kota tempat lomba. Hal ini untuk memberi istirahat yang cukup bagi burung sebelum tampil di arena.
Terkait aspek WHERE ini adalah kondisi lapangan yang Anda juga harus tahu sebelumnya. Pastikan Anda tahu apakah arena tersebut terbuka dari sinar matahari atau tertutup rimbunnya pepohonan atau ditutup dengan tenda. Pastikan burung Anda tidak akan terpengaruh dengan kondisi lapangan seperti itu. Atau kalau burung Anda tidak terbiasa dengan arena yang direncanakan untuk lomba, maka dengan mengetahui kondisi lapangan jauh hari sebelumnya, Anda bisa mengkondisikan burung Anda.
Aspek berikut adalah WHEN. Masalah “kapan” lomba digelar, Anda juga harus paham, terutama berkaitan dengan musim/cuaca. Jika cuaca berangin, maka pastikan bahwa sangkar burung Anda cukup berat sehingga tidak akan terayun-ayun di gantangan. Jika sangkar Anda terbuat dari bahan yang ringan, maka tidak ada salahnya pada dasar sangkar (dibawah jeruji dasar) Anda menambahkan batu/besi sehingga sangkar tidak akan terayun-ayun oleh angin. Jika cuaca berangin, pastikan pula plastik yang biasanya kita pasang pada dasar sangkar sebagai pencegah sangkar kena kotoran burung, dilepas. Jika tidak dilepas, seringkali plastik ini tersingkap yang menyebabkan burung kita ketakutan dan tidak kerja di arena lomba. Juga jika cuaca berangin, buatlah sangkar Anda sedemikian rupa sehingga tidak mungkin ada daun/kotoran dari pohon, menerobos masuk ke sangkar. Daun/kotoran yang masuk ke sangkar, biasanya menyebabkan burung macet bunyi dan malah memain2kan daun/kotoran itu.
Setelah persoalan2 5W saya kemukakan, maka perlu kiranya saya sampaikan sejumlah “HOW” mulai dari pakan sampai sikap kita dalam lomba:
1. Jangan pernah tinggalkan makanan, kecuali air minum, ketika burung mulai digantangkan di arena.
2. Jangan pernah teriak2 dalam lomba karena teriak2 tidak berpengaruh apa2 kecuali malah memberi “perlindungan” bagi juri yang akan berbuat tidak jujur dalam lomba. Adanya suara gaduh, membuat suara burung tidak terdengar jelas dari luar arena. Hal ini bisa membuat juri memberikan penilaian apa saja, dengan berpikir, “Toh kalian semua (pemilik burung) tidak mendengar apapun di arena lomba kecuali jerit teriakan.”
3. Jangan pernah tinggalkan burung di kawasan lomba tanpa pengawasan.
4. Jangan gantung/letakkan sangkar di sembarang tempat. Waspadai keberadaan serangga/semut pengganggu burung.
====================================================
Sekadar info sebelum saya tutup tulisan ini, untuk mempersiapkan burung jawara, Anda perlu membaca yang satu ini: Rahasia Burung Jawara.
Atau Anda ingin tahu rahasia lebih jauh bagaimana merawat burung, pengetahuan tentang doping yang baik dan tidak baik? Ya, silakan menjadi member Om Kicau Hotline.
====================================================
Demikian kawan sejumlah hal yang bisa saya sampaikan untuk Anda semua. Barangkali masih banyak hal yang belum saya sampaikan di sini mengingat keterbatasan ingatan saya. Perlu kiranya saya tegaskan lagi bahwa PADA KENYATAANNYA BANYAK BURUNG BISA JADI JAWARA TANPA PERSIAPAN MACAM2.

sumber : https://omkicau.com


Rabu, 23 November 2016

TERNYATA BEGINI...!!! CIRI-CIRI KARAKTER BURUNG PLECI PETARUNG



Setelah kemarin saya membahas bagaimana cara memilih pleci jantan sekarang saya akan memberikan tips bagaimana ciri-ciri burung yang jiwanya adalah jiwa petarung.

Mungkin bagi anda yang suka memelihara burung untuk lomba harus tau ciri-ciri ini tapi bagi anda yang suka burung pleci tapi hanya untuk di pelihara di rumah mungkin tips ini tidak perlu di ketehaui, tetapi bila anda hanya ingin  tau saja silahkan baca artikel ini semoga bermanfaat.
  • bakat atau bawaan
    kelebihan : biasanya dirumah pendiam, tapi di lapangan hampir-hampir tidak pernah tidak kerja sama sekali (ketemu PC lain koar-koar langsung ikut).
    kekurangan : karena sedari muda dah rajin tampil, usai belum mapan/kicauaannya belum matang sudah ditampilkan, sehingga terkesan pleci yg jelek lagunya mudah tampil
  • bentukan/latihan
    kekurangan : biasanya wajib nunggu gacor dulu dan setelah itu baru diajari supaya berani tampil di lapangan secara bertahap (setting, rawatan dll)
    Kelebihan : karena usianya matang saat ditampilkan, maka lagunya akan terkesan bagus, sehingga kesan yg timbul adalah pleci berlagu bagus susah tampil
sumber: https://burungzone.blogspot.co.id/2012/06/ciri-ciri-karakter-burung-pleci.html